Wayang Kulit Memberikan Penerangan Kepada Masyarakat Tentang Ajaran Agama, Budhi Pakerti Dan Petuah

  • Bagikan
LCN | BALI – Wayang kulit sebagai simbol alam semesta atau bhuana agung dan bhuana alit dikemas dalam keropak sebagai miniatur alam semesta dituangkan dalam pertunjukan wayang kulit Bali. Dalang yang menjadikan wayang kulit hidup merupakan personifikasi Ida Sanghyang Widhi Wasa, tanpa dalang wayang tidak bisa hidup, dalang bebas menentukan dari mana mulai jalan cerita pada pertunjukan wayang kulit Bali, maka dalang disebut Sanghyang Kawiswara.
Jero Dalang Nyarikan Muaka kepada LintasCakrawalaNews di kediamannya Penida Kaja, Tembuku Bangli Bali mengatakan, cerita karena telah ditentukan oleh status sebagai Kawi Dalang. Dalang memiliki hak, guna mengungkap segala sesuatu yang berkaitan dengan Tri Buana yakni bhur loka, bwah loka dan swah loka namun kebebasan itu tetap dibatasi rambu – rambu yang disebut Kamurba Kawisesa termuat dalam Dharma Pewayangan.
“Pertunjukan wayang kulit Bali merupakan kesenian tradisionil yang bernilai tinggi, nilai pertunjukan wayang kulit ditentukan oleh nilai dan fungsi yang serba ganda yakni nilai hiburan, nilai seni, pendidikan rohani dan religius,” kata Jero Dalang Nyarikan Muaka.
Jero Dalang Nyarikan Muaka dalam pertunjukan wayang mengharapkan dapat memberikan kepuasan lahir dan bathin kepada penonton, nilai seni merupakan kegairahan dalam hidup, sehingga hidup ini tidak gersang, pendidikan rohani memberikan siraman kepada penonton, nilai religius memberikan tuntunan hidup supaya tidak tersesat dalam menjalani kehidupan.
“Dalam pertunjukan wayang tercermin berbagai aspek kehidupan manusia dalam hubungannya dengan manusia lain, alam, dan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Pertunjukan wayang kulit bukan hanya sebagai kreaktivitas budaya juga menampilkan unsur – unsur estetika, menampilkan norma dan nilai kehidupan yang dijadikan pedoman prilaku manusia seluruhnya tercermin dalam pertunjukan wayang kulit Bali,” kata Jero Dalang Nyarikan Muaka.
Lebih lanjut Jero Dalang Nyarikan Muaka mengatakan pertunjukan wayang merupakan acuan sebagai rambu – rambu dalam manusia bertingkah laku, karena pertunjukan wayang kulit menyebabkan penonton dapat terhanyut dalam cerita pementasan wayang, sehingga penonton mengaitkan sifat – sifat tokoh wayang ke dalam karakter manusia dalam kehidupannya. Pertunjukan wayang kulit mampu memberikan penerangan kepada masyarakat tentang ajaran agama, budhi pakerti, pendidikan moral dan petuah.
“Wayang kulit mengandung nilai yang dijadikan pedoman dalam kehidupan masyarakat Bali, disajikan melalui pertunjukan lakon – lakon pewayangan,” urai Jero Dalang Nyarikan Muaka.
Jero Dalang Nyarikan Muaka memaparkan bahwa struktur dalam arti luas yaitu struktur dalam pertunjukan wayang kulit terdiri – dari beberapa bagian adegan seperti adegan petangkilan, angkat – angkatan, siat. Struktur bagian yang saling keterkaitan dalam pertunjukan wayang kulit yakni adegan petangkilan seperti alas arum, penyacah parwa, tetikesan, anta wecana atau gancaran dan musik iringan atau tabuh gender wayang, elemen tersebut ditampilkan secara terstruktur.
Jero Dalang Nyarikan Muaka menyatakan dalam pertunjukan wayang kulit Ramayana menggunakan sumber cerita Ramayana dipentaskan pada malam hari lengkap dengan blencong, kelir dan musik pengiringnya gambelan batel, dan wayang kulit Parwa dalam masyarakat adalah pertunjukan wayang kulit yang hanya menggunakan cerita Mahabharata sebagai lakon. Wayang kulit Calonarang sebuah pertunjukan wayang yang khusus mengungkap mistik, nama Calonarang diangkat dari tokoh antagonis barnama Walu Nateng Dirah adalah seorang tokoh yang berstatus janda menjadi ratu di Kerajaan Dirah memiliki ilmu hitam tingkat tinggi, mampu berubah wujud menjadi rangda.
“Dalang dalam mementaskan wayang kulit Calonarang memiliki kemampuan khusus pengungkapan mistik pada saat pertunjukan, dapat mengundang perhatian penonton yang ingin menyaksikan melalui kelir,” urai Jero Dalang Nyarikan Muaka.
Jero Dalang Nyarikan Muaka menjelaskan bahwa, cerita yang diangkat timbulnya konflik karena Diah Ratna Menggali batal dipinang oleh Raja Kediri, menyebabkan ibu Diah Ratna Menggali yakni Walu Nateng Dirah merasa tersinggung dan sakit hati, karena martabatnya direndahkan oleh Raja Kediri. Karena tidak terima dengan perlakuan Prabu Kediri, maka Walu Nateng Dirah mengadakan penyerangan ke Kerajaan Kediri dengan menggunakan ilmu pengeleakan.
“Pada adegan pengundangan yang sering diwakilkan oleh tokoh punakawan sebagai wakil dari dalang, menantang langsung orang yang mempelajari pengeleakan untuk mengadu kemampuan di lapangan, bahkan sang dalang tidak segan – segan mengatakan ciri – ciri orang yang bisa ngeleak apabila mengganggu sang dalang, dan menantang orang yang bisa ilmu leak untuk adu kesaktian dengan sang dalang, hal seperti itulah diinginkan dan ditungu – tunggu oleh penonton yang berduyun – duyun datang menyaksikan pertunjukan wayang Calonarang,” jelas Jero Dalang Nyarikan Muaka didampingi anak didiknya Ngakan Putu Gede Udiana biasa disapa Aji Wisnu Segara Putra yang juga Wartawan LintasCakrawalaNews Biro Bali di kediamannya Penida Kaja Tembuku Bangli Bali.
Jero Dalang Nyarikan Muaka memaparkan jalan cerita wayang Calonarang bahwa Diah Padma Yoni hidup di tengah hutan Dirah kemudian melahirkan seorang anak perempuan sangat cantik diberi nama Diah Ratna Menggali, beberapa tahun lamanya Diah Padma Yoni menjadi penghuni hutan Dirah hingga berhasil membangun sebuah kerajaan diberi nama Kerajaan Tanjung Pura, karena Diah Padma Yoni menyandang status janda menjadi pemimpin Kerajaan Tanjung Pura, maka disebutlah Walu Nateng Dirah.
“Setelah Diah Ratna Menggali berusia dua puluh tahun, dia minta kepada ibunya agar diijinkan menemui ayahandanya Prabu Erlangga di Kerajaan Kediri, ibunya merestui dan berangkatlah Diah Ratna Menggali, tetapi harapannya sia – sia karena tiba di Kerajaan Kediri diperlakukan kurang manusiawi oleh Patih Madri yang menjadi orang kepercayaan Prabu Erlangga. Diah Ratna Menggali dihina dan disiksa oleh Patih Madri, karena dianggap keturunan orang yang mempelajari ilmu leak. Dengan perasaan perih menyayat hati, luka lebam, serta pakaian compangcamping, Diah Ratna Menggali kembali ke Kerajaan Dirah. Setelah Walu Nateng Dirah mengetahui anak kesayangannya diperlakukan seperti itu timbulah amarah besar dan dendam kepada Prabu Erlangga, kemudian Walu Nateng Dirah memohon kepada Betari Durga agar dapat membalaskan sakit hatinya kepada Prabu Erlangga,” papar Jero Dalang Nyarikan Muaka yang sudah banyak melahirkan seniman topeng dan dalang wayang ini.
Jero Dalang Nyarikan Muaka menjelaskan Walu Nateng Dirah berhasil memporak – porandakan Kerajaan Kediri dengan menebar penyakit, tidak terhitung jumlah korban berjatuhan di Kerajaan Kediri. Wayang Calonarang merupakan wayang mistik, sering juga disebut Wayang Leak. Dalang wayang calonarang setidaknya juga mempelajari ilmu penengen, supaya dalam pementasan selamat dari serangan ilmu leak juga melihat dengan mata bathin orang yang menguasai ilmu leak.
“Dalam cerita Calonarang mengungkap adanya ilmu pengeleakandengan tokoh yang terkenal adalah Walu Nateng Dirah, Diah Ratna Menggali, dan sisya atau murid seperti Lenda, Lendi, Waksirsa, Maisawedana, Gandi dan Guyang. Prabu Erlangga/Raja Kediri, Mpu Beradah, Patih Madri, Patih Taskara Maguna merupakan pihak kanan. Sisya merupakan anak buah Calonarang memiliki tingkatan ilmu yang setara dengan Rarung ilmu leak yang dikuasai tingkat tinggi anugrah Betari Durga diterima di pemuwunan setre seperti Lenda, Lendi, Waksirsa, Maisewedana, Gandi dan Guyang semuanya mempunyai tingkatan pengeleakan tinggi,” papar Jero Dalang Nyarikan Muaka.
Jero Dalang Nyarikan Muaka menjelaskan I Rarung menggunakan ilmu leak Pudak Sategal selalu kelihatan cantik dan dicintai banyak laki – laki. Dalam pertunjukan wayang Calonarang juga menggunakan simbol di panggung seperti pohon pepaya atau gedang renteng, pohon sukun dan pohon kenyongnyong. Gedang renteng merupakan pohon papaya yang berbuah kecil dan sangat lebat, pohon sukun sejenis pohon timbul tetapi buahnya tidak berduri, pohon kenyongnyong sejenis pohon pule tetapi daunnya agak lebar dan lebih panjang.
“Ketiga jenis pohon tersebut disenangi oleh penekun ilmu leak sering dijadikan tempat meselikuan atau menghilang sementara. Dalam pementasan wayang Calonarang tempat biasanya di pemuwunan setra atau tempat pembakaran mayat, pertunjukan wayang calonarang selalu disertai dengan ngundang leak dalang menantang orang yang menekuni ilmu leak diajak adu kesaktian diajak langsung mencoba kemampuan atau kadyatmikan dengan dalang wayang calonarang,” pungkas Jero Dalang Nyarikan Muaka.
Jero Dalang Nyarikan Muaka menyediakan kelengkapan upacara seperti gambang, topeng dan wayang serta gong siap ngayah dengan tulus ikhlas. ● (Ngakan Udiana)
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *