Pusdiklat Prawita GENPPARI Beri Pelatihan “The Art of Acting” Dalam Praktek Intelijen

  • Bagikan

LCN || Ada beberapa jenis profesi yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dalam berakting alias ilmu peran. Contoh yang sederhana misalnya para aktor atau artis yang sedang memainkan peran, baik di atas panggung ataupun di balik layar.

Dimana masing – masing memiliki peran sesuai dengan alur cerita yang diharapkan. Namun sebenarnya bukan hanya profesi itu saja yang perlu menguasai ilmu peran, misalnya profesi intelijen pun wajib menguasai dan mendalami ilmu peran karena akan sangat menunjang kesuksesan dalam mengemban aneka misi yang menjadi beban tugasnya “, ujar Pemerhati Intelijen Dede Farhan Aulawi di Bandung, Kamis (13/1).

Lebih lanjut Dede juga menjelaskan bahwa terlepas jenis peran apapun yang ia mainkan, yang pasti ia bisa mengkhayati dan menjiwai setiap ucapan dan tindakan atas peran yang ia bawakan. Baik peran protagonis, antagonis, tritagonis ataupun hanya berperan sebagai figuran saja.

Protagonis merupakan peran yang harus menampilkan sesuatu sesuai pandangan dan harapan publik, menggambarkan watak yang baik dan positif. Peran protagonis dapat menyita empati dan perhatian pembaca.

Sementara, Antagonis menjadi salah satu peran yang menimbulkan konflik dalam skenario yang dibuat. Ia merupakan penggambaran watak yang buruk dan negatif. Biasanya dibenci publik, namun dterkadang diberikan porsi cukup banyak sehingga menyita perhatian publik. Kemudian Tritagonis disebut juga karakter ketiga atau penengah yang menggambarkan watak yang bijak.

BERITA TERKAIT  Babinsa Koramil 1013-14/Uutmurung Tegakkan Disiplin Protkes Covid-19.

Berfungsi sebagai pendamai atau jembatan atas penyelesaian konflik. Biasanya muncul sebagai tokoh yang menyelesaikan permasalahan dalam sebuah alur cerita yang diskenariokan. Terakhir, Figuran (peran pembantu) merupakan tokoh atau peran yang kurang berarti dalam alur skenario, tetapi menjadi penambah “indahnya” alur cerita.

Saat melakukan “Peran”, imajinasi sangat penting karena “seorang” akan berpura-pura menjadi orang lain. Dalam berpura-pura menjadi orang lain secara sungguh-sungguh, diperlukan gaya imajinasi seseorang, sehingga kepura- praanya itu tidak diketahui oleh orang lain. Orang lain tidak boleh mengetahui bahwa dia sedang berpura- pura. Orang lain harus merasa bahwa yang disaksikannya itu adalah kenyataan bukan khayalan.

Pendekatan lazim disebut pendekatan kreatif atau pendekatan metode dengan teknik konsentrasi, ingatan emosi, laku dramatis, pembangunan watak, observasi, dan irama. Latihan suara dan ucapan perlu cermat dan cukup. Vokal harus diucapkan jelas, konsonan- konsonan tidak boleh dilafalkan setengah-setengah. Selain latihan olah vokal dan latihan pernafasan, ada juga latihan letupan suara, latihan diksi (gaya pengucapan). Karyanya diciptakan melalui tubuhnya sendiri, suaranya sendiri, dan jiwanya sendiri. Hasilnya berupa peragaan yang ditampilkan di depan publik sangat tepat sesuai dengan target yang diharapkan.

BERITA TERKAIT  TEKAN PERTUMBUHAN COVID-19 DI BERAU, SATGAS PROKES TINGKATKAN PENDISIPLINAN WARGA

Kemudian Dede juga menambahkan terkait dengan potensi tubuh yang harus lentur, sanggup memainkan semua peran, dan mudah diarahkan. Tidak kaku, latihan dasar dapat dilakukan dengan beberapa tahapan, seperti Latihan tari supaya mengenal gerak berirama dan dapat mengatur waktu. Lalu latihan samadi supaya mengenal lebih dalam artinya diam, merenung secara insani. Selanjutnya latihan silat supaya mengenal Potensi Tubuh.

Ada juga yang disebut Potensi Driya, yaitu semua pancaindra, penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan pengecap. Potensi akal, agar cerdik dan tangkas. Kecerdikan dan ketangkasan itu bisa dipunya kalau ia terbiasa menggunakan akal, antara lain dengan kegiatan membaca dan berolahraga. Potensi Hati, hati merupakan landasan perasaan-perasaan manusia yang terkadang amat beragam dan silih berganti.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *