Ngakan Putu Agus Putrawan: Menari Topeng Dengan Modal Nekat Serta Tulus Ikhlas

  • Bagikan
LCN | GIANYAR BALI – Hanya karena hobi dan ingin melestarikan seni dan budaya Bali, sosok Ngakan Putu Agus Putrawan memberanikan diri dan bermodalkan nekat menari tupeng. Tentunya seni tari topeng merupakan salah satu kesenian Bali yang sangat terkenal.
“Kesenian topeng di Bali sudah ada sejak zaman prasejarah, seni topeng dijumpai pada masyarakat yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Topeng Bali umumnya dibuat dari kayu kenanga dan kayu pule, tahap pemahatan yang harus dilalui karena adanya pakem tertentu dalam penggambaran sifat tokoh topeng yang dibuat, hal ini membuat perajin topeng harus memiliki keterampilan khusus untuk menciptakan topeng yang bagus,” kata Ngakan Putu Agus Putrawan didampingi Aji Wisnu Segara Putra di kediamannya Serongga Gianyar Bali.
“Seni tari topeng Bali sudah ada sejak zaman pemerintahan raja Jaya Pangus sekitar abad X, hal ini tertera pada kumpulan prasasti Jaya Pangus yang menyatakan bahwa ada pertunjukan yang mempergunakan alat – alat penutup muka alias topeng, pada prasasti Blantih tahun 1059 Masehi juga mengungkapkan topeng sudah dikenal dan banyak digunakan untuk pertunjukan,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan, tari topeng bukanlah sekadar hiburan di panggung semata, arti tari topeng Bali begitu dalam dan mengandung makna. Tari topeng di Bali bermuatan pengetahuan lokal, ceritanya berasal dari riwayat sejarah atau kisah – kisah legenda, bisa juga menceritakan sejarah garis keturunan kerajaan yang dibawakan dalam adegan kehidupan sehari – hari.
Ngakan Putu Agus Putrawan mengatakan, dirinya belajar menari topeng untuk melestarikan seni dan budaya Bali yang adi luhung, sebagai warisan leluhur yang patut dijaga keberadaannya di tengah kekosongan waktu dalam situasi pandemi Covid-19 ini.
“Melalui berkesenian meningkatkan imunitas tubuh,” jelas pria yang juga Kelihan Pemaksan Pura Penataran Agung Serongga Gianyar ini.
“Upaya pelestarian budaya tarian topeng Bali ini sangat erat kaitannya terhadap upacara yang digelar di pura atau saat masyarakat menggelar upacara. Nah, dengan belajar tari topeng ini, otomatis dengan kemampuan yang dimiliki, sehingga mampu berpartisipasi atau ngayah menari,” imbuh Ngakan Agus Putrawan.
Ngakan Agus Putrawan mengajak berpikir positif dan mari bersama – sama melestarikan seni dan budaya Bali, kalau ingin bisa menari harus dengan sabar, modal utama adalah kesabaran, keberanian dan tekad serta tulus ikhlas,” jelasnya. ● (Ngakan Udiana)
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *