Jro Dalang Nyarikan Muaka: Pementasan Wayang Sudamala Dilakukan Pada Saat Upacara Keagamaan Untuk Melaksanakan Penyucian

  • Bagikan
LCN | BANGLI BALI – Istilah wayang diambil dari bahasa yaitu bayangan, sehingga jika ingin mengadakan bayangan harus ada cahaya dan cahaya tersebut berasal dari sumber cahaya, sumber cahaya berasal dari lampu atau damar wayang.
Jro Dalang Nyarikan Muaka kepada LintasCakrawalaNews di kediamannya Penida Kaja, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli ini mengatakan wayang merupakan sebuah kata dari bahasa Indonesia terutama Jawa asli yang berarti bayang berasal dari hyang dengan mendapat awalan wa menjadi kata wayang yaitu pertunjukan bayangan.
Lebih lanjut Jro Dalang Nyarikan Muaka menyatakan pementasan Wayang Sudamala dilakukan pada saat upacara keagamaan karena dianggap cocok untuk melaksanakan penyucian. Wayang Sudamala mempunyai fungsi juga sebagai Wayang Sapuleger yaitu untuk meruwat orang yang lahir pada wuku atau Hari Tumpek Wayang, akan tetapi pementasan Wayang Sudamala juga dilakukan untuk menyucikan roh seseorang yang selama hidupnya di dunia mengalami suatu keganjilan seperti mengalami sakit yang aneh, meninggal denga cara salah pati, ulah pati dan lain sebagainya.
“Untuk menolong rohnya supaya tidak kesakitan, perlu diadakan penebusan dengan cara mengadakan pertunjukan Wayang Sudamala,” jelas seniman otodidak yang sudah malang melintang di dunia pewayangan dan juga penari topeng sidakarya ini.
Jro Dalang Nyarikan Muaka menjelaskan orang yang perlu diruwat atau dibayuh dengan wayang sudamala adalah orang meninggal atau ketika hidupnya mengalami sakit yang aneh, orang yang meninggal dengan cara ulah pati dan salah pati, orang yang meninggal pada saat mengandung.
“Tujuan pementasan wayang sudamala untuk meruwat roh orang yang menderita ketika masih hidup di dunia atau jalan meninggalnya tidak wajar, pementasan wayang sudamala berisi cerita sudamala yang menurut keyakinan masyarakat, roh orang yang menderita dapat ditolong dari cengkeraman penderitaan,” urainya.
Jro Dalang Nyarikan Muaka menjelaskan  dalam pertunjukan wayang, sangat dipengaruhi oleh aspek kebenaran, kesucian dan kesenian. Saat masyarakat menyaksikan wayang, mereka dapat terhibur sekaligus mendapatkan ajaran – ajaran agama Hindu terutama pencerminan tingkah laku manusia.
Lebih jauh Jro Dalang Nyarikan Muaka menyatakan nilai kebenaran wayang terdapat dalam kitab atau lontar Dharma Pewayangan yang menguraikan tentang kewajiban dan kewenangan seorang dalang sebelum dan sesudah pentas dalam pewayangan. Tentunya tidak semua cabang seni mempunyai pegangan atau dharma dalam menjalani profesinya, bahkan tak tertutup kemungkinan cabang seni lain banyak yang mengambil atau meniru tata tertib yang ada dalam kitab Dharma Pewayangan.
“Dalam kitab dharma pewayangan  diutarakan bagaimana sikap seniman dalang mendisplinkan diri secara spiritual dan dalam pentas, bagaimana seorang dalang bertingkah serta sekaligus memberi tauladan pada masyarakat, untuk itu seorang dalang harus memahami isi lontar dharma pewayangan sekaligus merealitaskan dalam pelaksanaan sehari – hari,” tegas seniman yang murah senyum ini.
Jro Dalang Nyarikan Muaka menegaskan seorang dalang sebelum mulai ngewayang, mulai dari membersihkan diri seperti membersihkan kaki, tangan, lidah, wajah, badan, kepala dengan air dan mantra serta membersihkan pakaian yang dipergunakan dengan mantra. Selanjutnya dalang sembahyang di merajan memohon doa restu kepada Ida Sang Hyang Widhi agar diberikan tuntunan, selanjutnya bunga tersebut diletakkan di kepala. Seorang dalang tidak boleh memakan makanan yang mengandung pupusuh seperti usus, limpa, ati dan lain sebagainya, namun jika ia tidak mengetahui bahwa makanan itu mengandung pupusuh maka hal itu dibenarkan.
“Selanjutnya dalang mulai ngewayang sesuai dengan runtutan ngewayang. menurut Tutur Purwa Wacana dalan Dharma Pawayangan diuraikan tentang kewajiban atau syarat seorang dalang dalam menekuni dunia pewayangan, adapun peralatan dalam pergelaran wayang seperti kelir, kropak dan damar atau lampu wayang, yang dihubungkan dengan dunia bhuwana alit sang dalang,” urainya.
“Dalam Dharmaning Pawayangan berisi uraian tentang perlengkapan atau sarana pewayangan berikut lambang seperti batang pohon pisang sebagai tanah, kelir sebagai langit, lampu sebagai surya dan wayang sebagai manusia, disertai mantra dilanjutkan dengan mantra pengeger, mantra kayon, mantra segeh, bebayon, panyampi. Disebutkan peranan aji kembang bagi dalang kaitannya dengan penyudamalan dengan sarana dan mantra pangalup diakhiri dengan aji pangebek bhuwana,” jelasnya.
Jro Dalang Nyarikan Muaka memaparkan bahwa pementasan wayang pada upacara bhuta yadnya adalah pada saat Mecaru Manca Sata, Balik Sumpah, Panca Walikrama, Rsi Gana, Tawur Agung dan Manca Kelud jadi cerita yang dipentaskan dalam upacara Bhuta Yadnya adalah Detya Baka, Bima Dadi Caru dan lahirnya Bhatara Kala, Baka Sura, Durga Murti, Yogi Srana, Sutasoma, Hancurnya Dwarawati, Sahadewa dan Atma Prasangsa.
“Wayang pada upacara manusa yadnya cerita yang dipentaskan adalah lahirnya Gatotkaca, Cerita Carangan, Partha Yadnya, Perkawinan Abhimanyu, Subali Sugriwa, Sri Tanjung, Sapu Leger, Sang Hyang Gana, Ramayana, Jaya Kesuma, Drona Parwa, Belajarnya Rama dengan Bhagawan Wiswamitra, Lahirnya Jara Sanda, Rare Bang Rare Kuning, Arjuna Wiwaha, Lahirnya Krisna, Kahirnya Kusa dan Lawa, Bhatara Guru, Luh Ita Ganda/Sang Hyang Semara, Gatotkaca jadi ratu atau Pringgadani, Kerebut Abhimanyu, Gugurnya Prabu Wirata, Pandawa Lara, Lahirnya Pandawa Lima, Pandawa Berguru dan Arjuna Bertapa,” paparnya.
Jro Dalang Nyarikan Muaka
Wayang menjelaskan pada upacara rsi yadnya yakni upacara yang dilangsungkan adalah pada saat Mebersih, Ngadegang Sulinggih dan Mapediksan, jadi cerita yang dipentaskan adalah Ramayana, Drona Parwa atau penobatan Drona menjadi Guru di Astina, Ketaka Parwa, Pandawa Menyamar, Pedanda Baka, Gugurnya Bhisma, Anoman Duta, Wana Parwa, Gugurnya Drona.
“Wayang pada upacara pitra yadnya upacaranya dilaksanakan pada saat Ngaben, Nyekah dan maligya. Cerita yang dipentaskan adalah Bhima Swarga, Tualen ke Swarga, Sidakpaksa, Aswameda Yadnya, Cupak Gerantang, Sang Garuda, Atma Prasangsa, Gugurnya Salya, Gugurnya Gatotkaca, Gugurnya Abhimanyu, Swarga Rohani Parwa, Burusrawa dan Jarak Taru. Wayang pada upacara dewa yadnya upacaranya pada saat Wali atau odalan, Padudusan, Ngenteg Linggih cerita yang dipentaskan adalah berperangnya Bhatara Wisnu dan Bhatara Brahma, Pemutaran Gunung Mandara Giri, Kunti Yadnya, Aswameda Parwa, Arjuna Mencari Kijang, Sauptika Parwa, Jagat Karana, Surenggana dan Dewa Ruci,” jelasnya.
Jro Dalang Nyarikan Muaka menjelaskan nilai satyam atau kebenaran wayang terdapat dalam kitab atau lontar dharma pewayangan yang menguraikan tentang kewajiban dan kewenangan seorang dalang sebelum dan sesudah pentas dalam pewayangan. Aspek Siwam merupakan aspek kesucian dari sebuah kesenian wayang, dimana kesucian yang dimaksud adalah pementasan wayang yang bertujuan untuk mengisi upacara keagamaan Hindu atau Panca Yadnya.
“Aspek sundaram merupakan nilai estetika atau kesenian dari sebuah seni khusunya pementasan wayang,” tegas seniman Jro Dalang Nyarikan Muaka kelahiran Penida Kaja Tembuku Bangli yang sudah banyak melahirkan seniman muda salah satunya Wartawan LintasCakrawalaNews Biro Bali, Ngakan Putu Gede Udiana yang biasa disapa Aji Wisnu Segara Putra.
Jro Dalang Nyarikan Muaka juga menyediakan dan melayani kelengkapan sarana upacara seperti wayang, angklung, gong, gambang, sslunding dan sekeha pesantian serta selalu siap ngayah kapanpun. ● (Ngakan Udiana)
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *