Jero Dalang Nyarikan Ketut Muaka: Topeng Sidakarya Sebagai Lambang Bahwa Karya Yang Digelar Sudah Selesai Dengan Baik

  • Bagikan
LCN | BANGLI BALI – Topeng Sidakarya adalah salah satu seni pertunjukan sakral di Bali yang termasuk dalam daftar warisan budaya tak benda Indonesia UNESCO tahun 2015 nomor registrasi 201500246, nama Tari Topeng Sidakarya berasal dari dua kata yaitu Topeng dan Sidakarya, topeng berasal dari kata tup yang artinya tutup dan sidakarya berasal dari kata sida yang artinya mencapai, dan karya yang artinya tujuan, jadi Sidakarya memiliki makna mencapai tujuan, jadi Topeng Sidakarya menjadi lambang bahwa karya yang digelar sudah selesai dengan baik.
Jero Dalang Nyarikan Ketut Muaka didampingi anak didiknya Aji Wisnu Segara Putra yang juga Wartawan LintasCakrawalaNews Biro Bali dan Wayan Suweca di kediamannya Penida Kaja Tembuku Bangli Bali mengatakan tari topeng Sidakarya merupakan pelengkap dari upacara Yadnya di Bali, tari topeng ditampilkan sebagai tari persembahan atau wewalen acara pemujaan yang dipimpin sulinggih.
Lebih lanjut dikatakan, tujuannya agar upacara yang berlangsung dapat terselenggara dengan baik dan selamat serta terhindar dari segala bahaya, di akhir tari ini secara simbolis penari menghamburkan uang kepeng dan beras kuning atsu sekarura sebagai lambang pemberian berkat kesempurnaan dan kemakmuran.
Jero Dalang Nyarikan Ketut Muaka menjelaskan tari topeng Sidakarya merupakan salah satu ritual penting dalam upacara yadnya, ditarikan orang pilihan dan memiliki tingkat kerohanian tinggi di kalangan umat Hindu. Topeng Sidakarya muncul dari legenda antara Raja Bali dengan Pendeta Keling dalam upacara besar di Pura Besakih, dimana Pendeta Keling sempat diusir dari upacara, kemudian mengutuk pelaksanaan upacara, sampai akhirnya Raja Bali meminta maaf dan menjadikannya sebagai saudara.
“Supaya upacara bisa diselesaikan Raja Bali mengangkat Pendeta Keling sebagai saudara lalu diberikan tahta Dalem Sidakarya, artinya supaya upacara selesai sempurna, itu simbol topeng Sidakarya,” kata Jero Dalang Nyarikan Ketut Muaka.
Jero Dalang Nyarikan Ketut Muaka menjelaskan tarian topeng Sidakarya membawa pesan tentang kesabaran dimana setiap umat tidak diperbolehkan memiliki sikap atau perasaan marah, emosi dan saling membenci ketika menyelenggarakan upacara yadnya. Ketika melaksanakan upacara jangan ada yang emosi, marah, apalagi bertengkar, upacara yadnya harus damai supaya rahayu merupakan nilai kehadiran topeng sidakarya.
Jero Dalang Nyarikan Ketut Muaka menegaskan tari topeng sidakarya hanya ditampilkan saat upacara yadnya, jika dalam upacara yadnya, topeng sidakarya memiliki visual bentuk mata sipit, mulut menganga yang menggambarkan orang sedang konsentrasi melihat sesuatu yang jauh.
“Tidak sembarang orang boleh menarikan topeng sidakarya dalam upacara yadnya harus orang dewasa telah melalui proses upacara pembersihan baik secara fisik maupun mental atau dikenal dengan mawinten, karena topeng sidakarya bukan sekedar tarian biasa tetapi harus disertai dengan doa mantra baik diucapkan secara langsung dihadapan umat yang mengikuti sembahyang maupun secara bathin,” tegas Jero Dalang Nyarikan Ketut Muaka.
Jero Dalang Nyarikan Ketut Muaka memaparkan penari topeng sidakarya berdoa menghadap ke timur, selatan, barat, utara dan tidak sembarang orang serta secara tingkat kerohanian juga harus tinggi.
“Dengan gaya tarian sambil mengucapkan mantra serta menebar beras kuning yang artinya memberikan laba kepada bhuta kala supaya tidak mengganggu ketentraman hidup manusia, sehingga diharapkan mendapatkan kerahayuan jagat. Diiringi menebar sekar ura yang artinya medana – dana atau bersedekah kepada semua unsur kekuatan bhuta demi kelancaran upacara yadnya,” jelasnya.
Jero Dalang Nyarikan Ketut Muaka menyatakan penyelanggaraan topeng Dalem Sidakarya sangat penting artinya dalam memohon kesejahteraan dunia dan segala isinya, baik sekala dan niskala, maka sudah seyogyanya untuk mementaskan topeng Dalem Sidakarya dalam suatu karya yadnya.
Jero Dalang Nyarikan Ketut Muaka menegaskan dengan menggelar tari topeng Sidakarya pada upacara yadnya tertentu diharapkan yadnya yang diselenggarakan dapat barjalan dengan lancar, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai disebut dengan sidakarya dan labdakarya. ● (Ngakan Udiana)
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *