Jenis Penyakit Dan Khasiat Obat Yang Disediakan Alam Tergolong Cara Pengobatan Sesuai Petunjuk Lontar Usada 

  • Bagikan
LCN | BALI – Sebagian besar pernah mendatangi Jero balian atau dukun, baik untuk tujuan penyembuhan penyakit, menanyakan sesuatu yang niskala, mencari perlindungan diri, penangkal agar tidak terserang orang secara gaib, bahkan untuk mendapatkan penglaris. Apapun tujuan kita mendatangi jero balian dan kemampuan jero balian, tampaknya tidak mudah untuk menghindari kepercayaan dunia niskala, yakni dunia mistik dan gaib.
Jero Balian Mangku Sumawijaya kepada LintasCakrawalaNews mengatakan, bahwa pemahaman tradisional mengenai penyakit berkaitan dengan penyembuhan dan balian. Dalam lontar usada mengelompokan penyakit menjadi tiga jenis yakni penyakit panes, penyakit nyem dan penyakit sebba. Obat juga dikelompokkan menjadi tiga macam, yakni obat anget, obat tis dan obat dumelada.
“Kesejajaran antara jenis penyakit dan tiga macam obat tersebut berhubungan dengan fungsi dan kesaktian Bhatara Brahma, Bhatara Wisnu dan Bhatara Iswara. Ketiga dewa itu diberi wewenang oleh Dewa Siwa untuk melaksanakan pengobatan sesuai dengan sifat masing – masing penyakit,” kata Jero Balian Mangku Sumawijaya yang sering menjadi watangan matah dan ngundang leak saat pentas drama tari calonarang ini.
Jero Balian Mangku Sumawijaya didampingi anak didiknya Ngakan Putu Gede Udiana biasa disapa Aji Wisnu Segara Putra yang juga Wartawan LintasCakrawalaNews Biro Bali ini menegaskan bahwa Dewa Brahma diberi tugas dan wewenang untuk mengadakan penyakit panes dan obat yang berkhasiat anget, Dewa Wisnu bertugas untuk mengadakan penyakit nyem dan obat yang berkhasiat tis, Dewa Iswara mengadakan penyakit sebba dan bahan obat yang berkhasiat dumelada.
Lebih lanjut Jero Balian Mangku Sumawijaya memaparkan cara menentukan khasiat obat tersebut belum ditemukan jawabannya dalam lontar usada. Lontar taru pramana hanya menyebutkan berbagai jenis tanaman yang berkhasiat anget, tis dan dumalada tanpa mengulas cara mengetahui khasiat yang dikandung tanaman tersebut.
“Jenis penyakit dan khasiat obat yang disediakan alam tergolong cara pengobatan sesuai dengan petunjuk lontar usada, tetapi sering memberikan bahan obat berupa rerajahan atau benda yang diberi rerajahan dan mantra kepada pasien disamping jenis obat dan juga penangkal gering hal ini tentunya untuk kesembuhan pasien itu sendiri,” jelasnya.
Jero Balian Mangku Sumawijaya menjelaskan pengijeng merupakan penangkal penyakit atau hal buruk yang berbentuk rerajahan dengan aksara wijaksara ditulis diatas lempengan logam, pecahan periuk tanah, daun lontar, kain, kertas atau benda lainnya. Benda yang dirajah dibungkus dengan kain putih, atau dimasukkan ke dalam periuk tanah kecil, disertai banten dan mantra, lalu ditanam di pekarangan rumah, atau di tempat lainnya. “Dengan menanam pengijeng di pekarangan rumah atau di tempat tertentu, berarti menanam kekuatan magis sehingga diharapkan semua penyakit dan kekuatan atau orang yang berniat jahat tidak akan berani memasuki pekarangan rumah,” urainya.
Jero Balian Mangku Sumawijaya menjelaskan pekakas adalah jimat dibuat dari lempengan logam kecil, daun lontar, kain diberi rerajahan disertai mantra kemudian dibungkus dengan kain putih, ditempatkan di ikat pinggang, kalung atau tempat lainnya, yang selalu dibawa kemanapun pergi, terutama ketika keluar rumah, pekakas biasanya ditaruh di tempat yang tersembunyi agar tidak mudah dilihat orang atau mampu melindungi pemakainya dari marabahaya.
“Balian bertugas mengobati dengan kemampuan yang dimiliki untuk kesembuhan orang sakit yang minta tolong pada dirinya, balian harus memahami dan mempelajari Lontar Kelima Usada, Kelima Usadi, Usada Sari, Usada Punggung Tiwas, Usada Kuranta Bolong, Usada Cukil Daki, Usada Taru Premana, Usada Dalem Jawi, Usada Dalem, Usade Cetik, Usada Sasah dan berbagai jenis lontar usada lainnya,” jelas Jero Balian Mangku Sumawijaya didampingi anak didiknya Ngakan Putu Gede Udiana biasa disapa Aji Wisnu Segara Putra di Banjar Sigaran, Desa Mekarbhuana, Abiansemal Badung Bali.
Jero Balian Mangku Sumawijaya menjelaskan bahwa seorang balian harus tahu dasa aksara yakni Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang ini adalah dasar dari sepuluh prana atau Dasa Bayu. Dasa aksara ini mempunyai arti memuliakan Dewa Siwa seperti Sagora, Bamadewa, Tatpurusha, dasa aksara ini bagian untuk mencapai pencerahan batin melalui aksara, dasa aksara mengakses ke dunia kerohanian bukan kawisesan sehingga dasa akasara mencapai puncaknya apabila seorang balian memurnikan batin melalui dasa yama brata, dan ini murni ilmu kerohanian.
“Balian membantu orang yang datang minta disembuhkan, melakukan upaya untuk kesembuhan orang yang minta tolong dengan kekuatannya tentunya seijin Ida Sanghyang Widhi Wasa,” jelasnya.
Seorang Balian, lanjut Jero Balian Mangku Sumawijaya menguraikan terlebih dahulu harus mawinten yang mrmpunyai arti mawa artinya bersinar dan inten artinya permata, jadi mawinten artinya bersinar bagaikan permata bertujuan memohon waranugraha Ida Sanghyang Widhi Wasa untuk memberikan kesucian batin. “Maka sudah sepantasnya seorang balian mengabdi kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa yakin, bahwa hanya Ida Sanghyang Widhi Wasa yang sakti yang mampu menyembuhkan orang sakit, balian hanya menjadi perantara melalui puja mantra, om ksama sampurna ya namah swaha,” tegas Jero Balian Mangku Sumawijaya.
Jero Balian Mangku Sumawijaya biasa menolong orang sakit kena black magic atau ilmu leak, tentunya seijin Ida Sanghyang Widhi Wasa bisa disembuhkan. Bahkan menolong supaya keluarga rukun kembali dari sebelumnya sering terjadi keributan, dan menolong warung, toko sepi dari pembeli sebelumnya toko buka dilihat tutup oleh pelanggan, menolong laki – laki dan perempuan lama tidak mendapat jodoh, tentunya seijin Ida Sanghyang Widhi Wasa serta keyakinan modal yang paling utama. ● (Ngakan Udiana)
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *