JERO BALIAN MANGKU SUMAWIJAYA: BANYUPINARUH SUCIKAN PIKIRAN DENGAN AIR ILMU PENGETAHUAN

oleh

 

LCN – BADUNG – Banyupinaruh adalah hari untuk menyucikan pikiran dengan air ilmu pengetahuan. Wuku Watugunung adalah wuku terakhir pada penanggalan Bali, dalam satu tahun kalender Bali yang terdiri dari 210 hari. Minggu terakhir dari setahun penanggalan Bali adalah Watugunung, yang ditutup pada hari Sabtu Umanis Watugunung, dimana umat Hindu merayakan hari pemujaan kepada Sanghyang Aji Saraswati dan pada hari Minggu Pahing adalah hari pertama pada tahun baru kalender Bali, yang dimulai dengan wuku Sinta, umat Hindu melaksanakan ritual melukat saat Banyupinaruh.

Jero Balian Mangku Sumawijaya ketika ditemui Wartawan LCN Biro Provinsi Bali, Ngakan Putu Gede Udiana biasa disapa Aji Wisnu Segara Putra yang juga penekun Spiritual di Banjar Sigaran, Mekar Bhuana, Abiansemal Badung Bali mengatakan Banyupinaruh adalah air ilmu pengetahuan umat Hindu melaksanakan asuci laksana dengan jalan membersihkkan diri di laut atau di sungai sumber mata air, tepatnya saat matahari terbit. Setelah mandi di laut atau di sungai sumber mata air umat keramas memakai air kumkuman yakni air yang berisi berbagai jenis bunga segar dan harum. “Setelah itu mempersembahkan sesajen labaan nasi kuning di merajan, diakhiri dengan nunas atau makan lungsuran bersama keluarga,” katanya.

Jero Balian Mangku Sumawijaya menjelaskan bahwa filosofi Banyupinaruh adalah umat Hindu melaksanakan penyucian lahir dan batin, membawa sarana upakara berupa canang dan dupa untuk memohon punyucian lahir batin kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa agar segala kotoran dilebur diberikan kesucian pikiran, jiwa dan raga, memohon perlindungan dan kesucian jiwa raga. “Melebur keletehan di sungai, di danau, di sumber mata air agar memperoleh kekuatan untuk melangkah menyongsong hari – hari berikutnya dengan bijaksana,” jelasnya.

Jero Balian Mangku Sumawijaya memaparkan sebelum mandi terlebih dahulu nunas atau memohon kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa supaya diberikan kesucian lahir dan batin, mandi di laut menyimbulkan kesucian jiwa dan raga, agar harum laksana harum wewangin bunga seperti air melebur kekotoran, yang kemudian dilanjutkan dengan keramas untuk menyucikan lahir dan batin. Selesai mandi melaksanakan persembahyangan di Merajan menghaturkan labaan kuning kemudian dimakan bersama keluarga ketika kita sudah selesai menghaturkan atau mempersembahkan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.

“Banyupinaruh berasal dari kata banyu artinya air dan pinaruh artinya pengetahuan, intinya saat Banyupinaruh menyucikan pikiran dengan menggunakan air ilmu pengetahuan. Dalam Bagavadgita IV.36 disebutkan api ced asi papebhyah, sarwabheyah papa krt tamah, sarwa jnana peavenaiva vrijinam santarisyasi yang artinya, walau engkau paling berdosa diantara manusia yang memiliki dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan, lautan dosa akan dapat engkau seberangi,” jelasnya.

“Dengan melaksanakan pensucian bathin melalui Samadhi, serta disucikan dengan intisari pengetahuan suci diharapkan tumbuh dan berkembang kebijaksanaan, membersihkan kegelapan pikiran yang melekat pada tubuh manusia, dengan ilmu pengetahuan atau mandi dengan ilmu pengetahuan,” urai Jero Balian Mangku Sumawijaya.

Jero Balian Mangku Sumawijaya menjelaskan dalam Manawa Dharma Sastra V.109 dinyatakan adbhir gatrani suddyanti, manah satyena suddhyati, vidyatapobhyam bhutatma, buddhir jnanena suddhyati artinya tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa manusia dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dengan pengetahuan.

“Sehari setelah Hari Raya Saraswati, umat Hindu melakukan prosesi melukat atau pembersihan diri di pemandian suci atau laut, prosesi ini biasanya diakhiri dengan menyantap nasi Dira atau nasi Yasa berwarna kuning yang sebelumnya telah dipersembahkan kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa,” urainya.

Jero Balian Mangku Sumawijaya menyatakan redite atau minggu pahing sinta adalah hari banyupinaruh yaitu setelah ilmu pengetahuan turun saatnya menerima dengan rasa bangga pada diri bahwa kita telah memiliki pengetahuan tentang kesejatian hidup.

“Banyupinaruh sebagai penyucian diri telah didapatkan atau teraliri pengetahuan yang ada dipergunakan sebesar – besarnya untuk kemakmuran umat manusia, yang awal diterimanya pengetahuan itu berbarengan dengan awal bergantinya wuku menjadi awal kembali,” pungkas Jero Balian Mangku Sumawijaya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *