SEORANG BALIAN TIDAK BOLEH BERLAKU SOMBONG HARUS BERTINGKAH LAKU BAIK SESUAI DENGAN DHARMA

oleh

LCN | BADUNG – Tetenger merupakan istilah dalam pengobatan tradisional di Bali yaitu menyangkut diagnosis pasien. Usadha Buda Kecapi Sari dan Usadha Selik Sejati lebih menekankan pada tetenger sebelum melakukan pengobatan. Usadha Budha Kecapai Sari merupakan kritik kepada Usadha Kalimosadha dan Usadha Kalimosadhi karena dalam melakukan pengobatan Balian Kalimosadha Kalimosadhi tidak menegakkan tetenger atau diagnosis penyakit terlebih dahulu sebelum memberikan obat. Hal tersebut menyebabkan kegagalan dalam pengobatan yang menggunakan usadha.

Jero Balian Mangku Sumawijaya kepada Biro LCN Provinsi Bali yang juga penekun Spiritual, Ngakan Putu Gede Udiana yang biasa disapa Aji Wisnu Segara Putra di kediamannya Banjar Sigaran Desa Mekar Bhuana Abiansemal Badung Bali mengatakan penyakit dibedakan atas penyebabnya yakni Adhyatmika adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor dari dalam tubuh, termasuk penyakit kejiwaan penyakit ini berupa penyakit turunan penyakit bawaan dan penyakit yang disebabkan oleh ketidakseimbangan unsur – unsur yang ada dalam tubuh. Penyakit Adhibhautika adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor dari luar tubuh seperti kuman, bakteri, virus, kecelakaan dan racun. Penyakit Adhidaiveka adalah penyakit yang timbul karena pengaruh musim atau cuaca, dan penyebab yang tidak kelihatan.

Lebih lanjut Jero Balian Mangku Sumawijaya menjelaskan balian mendiagnosa penyakit dengan cara memeriksa pasien, cara pemeriksaannya menggunakan cara yakni Praktyaksa Pramana yaitu cara mengetahui penyakit dengan memeriksa langsung melalui penglihatan, pendengaran, penciuman dan rabaan. Anumana Pramana yaitu cara mengetahui penyakit dengan melihat tanda – tanda saja. Sabdha Pramana yaitu mengetahui penyakit dengan mendengar keterangan pasien. Agama Pramana menggunakan tenung yakni kapan mulai jatuh sakit.

“Balian dalam mengobati pasien dengan memakai sesajen yakni tawur, bebayuh, sesangi. Pengobatan dengan memberi minum ramuan atau loloh, dengan simbuh, dengan uap, boreh, pupuk, terek, dengan seeb, dusdus, dengan pemijatan, dengan energi batin yakni mantra, dengan melakukan brata, air putih termasuk memberikan jimat, dengan memberikan minyak khusus,” kata Jero Balian Mangku Sumawijaya.

Jero Balian Mangku Sumawijaya menyatakan bahwa usadha yang paling utama dalam mempelajari obat – obatan dari tumbuh – tumbuhan adalah Usadha Taru Pramana dan Usadha Selik Sejati, untuk memahami kedua usadha ini harus dibantu dengan Usadha Dasa Naman Taru. “Usadha Dasa Naman Taru memuat nama tumbuh – tumbuhan. Satu tumbuhan terkadang memiliki sepuluh,” jelas Jero Balian Mangku Sumawijaya.

Usadha Taru Pramana dan Usadha Selik Sejati memuat tentang nama tumbuh – tumbuhan untuk obat serta khasiatnya untuk mengobati penyakit. Usadha Taru Pramana isinya dialog Mpu Kuturan dengan tumbuh – tumbuhan dimana semua tumbuhan yang dipanggil menceritakan dirinya, nama dan khasiatnya. “Dalam Usadha Selik Sejati disamping nama tumbuh – tumbuhan obat, juga memuat obat – obatan yang berasal dari jamur, ulat, kalajengking, kaki seribu, lipan, tawon, belut, sarang wallet dan lsin sebagainya,” kata Jero Balian Mangku Sumawijaya.

Menurut Jero Balian Mangku Sumawijaya, pengobatan dengan Usadha merupakan perpaduan antara ilmu pengetahuan dan seni sangat kompleks dan seorang balian harus paham terhadap dharma atau etika balian.

“Balian yang bekerja menghadapi manusia, memerlukan dharma sesana yang diikuti dan ditaati semua balian sebagai pedoman yakni semua rahasia dari orang yang sakit harus disimpan, tidak boleh disebarluaskan atau dibicarakan dengan orang lain, balian harus suci dan bersih, terlepas dari sifat sombong dan asusila. Dalam Lontar Tutur Bhagawan Ciwa Sempurna ditegaskan seorang balian tidak boleh berlaku sombong, harus bertingkah laku baik sesuai dengan dharma, serta semua nafsu dihilangkan,” kata Jero Balian Mangku Sumawijaya.

Jero Balian Mangku Sumawijaya menyatakan seorang balian tidak boleh ragu – ragu harus penuh keyakinan pada apa yang dikerjakan tidak goyah terhadap segala hambatan, rintangan, gangguan dan godaan yang datang dari dalam diri sendiri, tidak mundur sebelum berhasil menyembuhan orang yang sakit. Semua pengobatan berlangsung dengan tulus ikhlas tanpa pamrih, semua balian yang benar – benar balian di Bali tahu akibat dari kelobaan.

“Balian harus tahu akan hak dan kewajibannya, rendah hati tidak sombong, membatasi diri terhadap apa yang dapat dilakukannya, menghormati kehidupan manusia, karena dalam raga sarira bersemayam Sang Hyang Atma, Sang Hyang Bayu Pramana karena beliau dapat mengutuk balian yang melanggar dharma sesana, bila terkutuk kesaktian atau kesidiannya dalam mengobati orang sakit menjadi luntur, lebih parah lagi ia akan menerima kutuk dari Sang Hyang Budha Kecapi sehingga hidupnya menderita. Balian harus astiti bhakti kepada Ida Bhatara Tiga khususnya kepada Ida Bhatara Dalem, Desa dan Puseh sebagai jalan untuk memohon keselamatan dan kesembuhan membantu orang sakit,” tegas Jero Balian Mangku Sumawijaya.

Jero Balian Mangku Sumawijaya menegaskan bila pasien ada aura negatif, saat diambil pasti akan merasakan sakit dan teriak,  bagaimanapun juga magic tidak akan bisa dilihat secara kasat mata. Tentunya kalau sakit medis dua tiga kali berobat mungkin sudah ada perubahan. Kalau sampai dua tiga kali belum ada perubahan harus cepat mengambil langkah, harus nunas pemargi atau minta petunjuk ke niskala kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa/Sang Pencipta,” jelas Jero Balian Mangku Sumawijaya.

Menjalani kehidupan di dunia ini kita harus yakin dan percaya dengan niskala, karena di dunia ini rwa bhineda tidak bisa dipisahkan ibaratnya ada api ada air, ada sakit ada obatnya, ada lahir ada mati. “Intinya kita  harus yakin dan percaya dengan unsur niskala,” pungkas Jero Balian Mangku Sumawijaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *